Mari Berjuang Memaafkan Kesalahan Sendiri dan Memulai Kembali

Selamat Pagi, untuk Diriku Sendiri.

Kali ini jangan memutar bola matamu dengan begitu sinis dulu melihat tulisan ini. Aku tahu, kau tak menyukai "kejutan" barang sedikit pun. Dan tentu kau tak menyangka aku akan berbicara padamu hari ini. Lewat sebuah tulisan ini. Sesederhana mungkin, tapi kau harus bertekad dan berjuang untuk memaafkan kesalahan sendiri dan berjalan dengan memulai semua kembali. Jadi, begini perkaranya. Aku hanya ingin mengembalikan sosokmu yang lebih ceria. Sudah beberapa saat ini, ia menghilang entah kemana. Tentu ia bukannya raib selamanya?

Aku tahu apa yang menjadi beban pikiranmu. Aku mengerti, lebih dari manusia manapun di dunia ini. Dan aku bersimpati, lebih dari siapapun yang kau punya disisi. Tapi maukah kau memaafkan yang telah lalu, apapun kesalahan yang kau perbuat it? Aku datang dari masa depan, dari hari yang baru. Aku datang, karena sifatku yang rasional dan tenang ini tak akan "terjadi" sosok yang pesimis dan penggurutu akan menggantikanku  jika kau tak  juga mau memaafkan dirimu. Bukan hanya untuk masa depanmu nanti. Melainkan juga demi mengkonservasi dan merestorasi diri.

Tidak ada orang yang bisa berjalan dengan sempurna. Sejak balita, jatuh, tersandung dan bilur itu biasa

Apa yang kau lakukan di masa lalu memang tak mudah dilupakan, Memutarnya lagi dalam kepala, masih ada rasa sesal bercampur keinginan untuk melakukan tindakan yang berbeda. Lebih hati-hati, agar tak melukai perasaan orang lain. Lebih rajin, agar tak gagal mencapai apa yang sudah lama kau cita-citakan.

Kau memang tak sempurna. Lututmu luka-luka, jempol kakimu dimasuki pecahan kaca karena kau tak selalu bisa berhati-hati dalam menjalani hari. Hingga sekarang kau merasakan sakit karena baret disekujur kaki. Namun, ini bukan alasan untuk berhenti berjalan sama sekali. Dengan berada disana saja dan enggan bangkit kembali, kau tak sedang berjuang membantu diri sendiri. Mungkin perjalananmu memang tak sempurna. Kau pun pernah tersesat karena gegabah dan keras kepala. Namun tak ada orang yang tak melakukan kesalahan selama hidupnya. Hanya kau yang paling tau: sejak balita, jatuh, tersandung dan luka-luka itu biasa.

Dengan sengaja tak memafkan diri, sebenarnya kau justru menambah lukamu lagi.

Mungkin kau ingin menunjukkan rasa sesal karena kesalahan dirimu lakukan. Memperhatikan pada orang lain, kau sadar telah bersalah, dan pasti diganjar hukuman yang setimpal. Namun pikirlah sekali lagi, apakah kesalahanmu ini memang sebesar itu, hingga layak merusak masa depanmu? Kau tak menolong siapapun dengan terus menyesali keadaan. Masa lalu itu ada agar dirimu lebih baik di masa sekarang, bukan agar kau berubah menjadi orang menyerah secara perlahan-lahan. Bangkitlah dan berdiri. Masih ada banyak hal baik yang menunggumu disini.

Aku menjalani hidup yang nyaman. Namun diriku akan punah jika sekarang kau tak mau memaafkan

Di masa depan, kau bisa menjalani hidup yang nyaman. Ada banyak hal yang kau harus jalani dengan segala ketercukupan, baik dari segi pundi maupun kebutuhan emosional. Keluarga tetap tulus menyangimu, apapun yang dulu pernah kau lakukan. Teman-teman yang sempat meninggalkanmu kini tak segan menyapamu lebih dulu lewat chat dan media sosial. Itu karena ternyata mereka masih perhatian.

Namun kenyamanan ini tak akan kau dapatkan di masa depan jika kini harimu masih meratapi kesalahan yang dulu kau lakukan. Diriku yang sekarang akan punah, digantikan seseorang yang berpandangan suram dan penuh kepahitan pada kehidupan ini- digantikan seseorang yang jauh dari kata menyenangkan. Tentu bukan orang seperti itu yang kau inginkan jadi dirimu? Masih ada kesempatan. Aku sengaja datang dari masa depan, karena yakin kau masih bisa bangkit dan tak lagi meratapi kesalahan.

Memang memaafkan diri sendiri bisa jadi hal tersulit di dunia ini. Namun kau punya kemampuan besar-akankah itu kau sia-siakan?

Diriku tersayang,

Aku tahu dunia ini penuh dengan kepedihan. Andai kau tak fokus pada lukamu sendiri, kau bisa mengulurkan tangan membantu mereka yang punya luka lebih dalam. Ada sisi penolong dari dirimu. Tidakkah kau rindu menjadi sosok yang kuat dan membantu?

Memang, memaafkan diri sendiri jauh lebih sulit dari mengampuni kesalahan orang lain. Melakukan kesalahan adalah sama dengan mengkhianati ekspektasi, dan luka yang kau rasakan akan jauh lebih besar saat yang mengkhianati adalah dirimu sendiri. Aku tahu kau punya kemampuan besar. Aku mengenalmu sebagai gadis periang dan cerdas yang tak mudah patah arang. Sekali ini, mari buktikan kau memang menyimpan kekuatan.

Coba lebih peka terhadap keadaan. Tajamkan radar kepekaanmu terhadap mereka yang berada tulus disisimu. Kau punya Tuhan yang setia untuk selalu ada disisimu dan mau mendengar segala cerita hidupmu. Kau punya orang-orang yang benar-benar tulus ada didekatmu. Tolong lebih bijak dan berpikir positif melihat kedepan bagaimana.  Ribuan kebaikan menantimu dari masa depan. Tak sabar menunggu pemiliknya datang.

Ikuti aku? Akan kita jemput mereka dengan riang. #memaafkandiri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Kecil untuk Tuhan, Bapa yang selalu ada Untukku

Menjadi Wanita Tangguh dan Mandiri